Output pabrik dan penjualan ritel Tiongkok mencatat pertumbuhan paling lemah sejak tahun lalu pada Agustus 2025. Ini menambah tekanan bagi Beijing untuk meluncurkan stimulus lebih lanjut demi mencegah perlambatan tajam di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Data ini memicu perdebatan ekonom apakah pembuat kebijakan perlu dukungan fiskal tambahan dalam jangka pendek untuk mencapai target pertumbuhan tahunan sekitar 5%. Sementara itu, produsen menunggu kejelasan lebih lanjut terkait kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat dan permintaan domestik tertekan oleh pasar tenaga kerja yang goyah serta krisis properti. Output industri tumbuh 5,2% secara tahunan menurut data Biro Statistik Nasional, terendah sejak Agustus 2024 dan lebih rendah dibandingkan kenaikan 5,7% pada Juli. ( tbu )




