Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan penurunan tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat menjadi 19 persen tidak otomatis membuat industri nasional unggul. Sebab, efisiensi biaya produksi nasional masih tertinggal dibanding negara pesaing seperti Vietnam. Untuk itu, biaya logistik, tenaga kerja, dan energi juga harus dibuat lebih kompetitif. Anindya menyebutkan, banyak perusahaan asing mulai melirik Indonesia untuk relokasi industri. Terutama dari Tiongkok yang sedang menghadapi tekanan tarif tinggi dari Amerika Serikat. Namun perusahaan-perusahaan itu hanya akan masuk jika biaya produksi di Indonesia cukup kompetitif. Untuk mendukung peningkatan produktivitas industri nasional, pemerintah telah menyiapkan paket kredit sebesar 20 triliun rupiah untuk modernisasi fasilitas produksi. Namun, pemanfaatannya disebut masih rendah. (republika-tbu)




