Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga menembus 100 dolar amerika per barel menambah tekanan bagi industri baja nasional. Meski demikian, dampaknya tidak secara langsung membuat biaya produksi baja naik dalam persentase yang sama. Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association IISIA Harry Warganegara mengatakan, dampak kenaikan harga energi berbeda antarprodusen maupun jenis produk baja. Hal ini dipengaruhi teknologi produksi, bauran energi, tingkat konsumsi energi, lokasi fasilitas, hingga struktur biaya masing-masing perusahaan. Menurut dia, bagi industri baja yang intensif energi, harga gas dan listrik justru menjadi komponen yang lebih signifikan terhadap biaya produksi dibandingkan harga minyak secara langsung. ( tbu )




