Program Jaminan Kesehatan Nasional mengalami kesenjangan atau gap arus kas atau defisit senilai 2 triliun rupiah per bulan. Kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor baik tingginya biaya pelayanan kesehatan, inflasi medis, hingga kesenjangan antara iuran peserta dan biaya pelayanan. Perkara itu diakui oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito.




