Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake mengumumkan keadaan darurat pada Sabtu 29 November 2025, seusai wilayah yang dipimpinnya dilanda banjir dahsyat hingga menewaskan lebih dari 330 korban. Dia mengatakan, kerusakan akibat banjir dan tanah longsor sangat parah sehingga membutuhkan biaya rekonstruksi yang tinggi. Selain korban meninggal 200 orang juga masih belum ditemukan akibat banjir dan tanah longsor di Srilanka. Sementara itu, 200 ribu rumah hancur sehingga menyebabkan 108 ribu orang harus mengungsi ke tempat penampungan sementara. Menurut para pejabat, hampir sepertiga wilayah di negara itu tidak memiliki listrik dan air bersih saat keadaan darurat diumumkan. ( tbu )



