Lembaga pemeringkat internasional S and P Global memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sampai menyentuh 5% sepanjang tahun ini, melanjutkan kinerja yang sebelumnya diperoleh pada kuartal pertama lalu yakni 4,87%. S and P menyatakan proyeksi itu dilakukan lantaran indikator ekonomi dalam negeri terbilang masih lesu, seperti kurangnya belanja infrastruktur hingga konsumsi rumah tangga. Pasalnya belanja infrastruktur memiliki pengganda fiskal yang tinggi bagi pertumbuhan dan sekaligus “membantu meringankan kendala pasokan dan hambatan infrastruktur.” Rata-rata pendapatan dalam negeri juga lebih rendah dibandingkan sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya, alih-alih dipoyeksikan akan tetap meningkat lebih cepat dari sejumlah program prioritas seperti makan bergizi gratis dan program tiga juta rumah.



