Saat berupaya menembus 1 miliar pengguna, Telegram mendapat kecaman di berbagai negara. Terbaru, Korea Selatan meluncurkan penyelidikan pada aplikasi itu terkait masifnya konten porno di dalamnya. Kantor berita Yonhap melaporkan kepolisian setempat akan melihat apakah Telegram terlibat dalam distribusi konten deepfake eksplisit. Sebelumnya banyak konten deepfake wanita Korea Selatan yang ditemukan di Telegram. Kejadian ini membuat publik dan pemerintah setempat marah. Meski berjanji melakukan penyelidikan, namun komisaris Badan Kepolisian Nasional Cho Ji Ho mengatakan investigasi pada platform penyedia pertukaran pesan cukup rumit dan perlu waktu untuk melakukannya. Kejahatan seks deepfake di Korea Selatan mengalami peningkatan drastis. Menurut catatan kepolisian setempat, dari 156 kasus pada 2021 menjadi 297 tahun 2024 ini. ( tbu )



