Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S Lukman mengatakan, pelemahan rupiah akhir-akhir ini berimbas pada beban ongkos produksi yang naik. Bagi industri kelas menengah atas, masih memiliki daya tahan atas kondisi ini sehingga harga produk makan dan minuman belum tentu langsung naik, bisa makan waktu 2 sampai 3 bulan baru naik. Namun, industri kecil dan menengah ada kecenderungan untuk menyesuaikan harga, mengingat stok produksinya hanya berkisar harian hingga mingguan. Adhi berharap pemerintah bisa melakukan intervensi agar dolar Amerika tidak melebihi 16 ribu 500 rupiah. Jika melewati batas itu, beban terhadap industri bakal semakin berat. Sejumlah cara juga disiapkan untuk mengantisipasi kondisi ini, misalnya mencari alternatif bahan baku yang lebih murah hingga modifikasi kemasan. ( tbu )




