BASF SE, pabrikan kimia asal Jerman berencana hengkang dari proyek pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia yang digarap bersama grup pertambangan logam asal Prancis, Eramet SA. Rencana BASF mundur dari proyek senilai 2 koma 6 miliar dolar amerika, atau setara dengan 42 koma 7 triliun rupiah itu dipicu oleh pertumbuhan penjualan kendaraan listrik yang melambat. BASF menyebut ketersediaan baterai berbasis nikel yang berkualitas secara global telah meningkat sejak proyek ini dimulai. Perusahaan tidak lagi melihat perlunya investasi sebesar itu. Prospek kendaraan listrik telah meredup sejak tahun lalu. Perlambatan ini terutama terlihat di Jerman, pasar asal BASF, dan Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan, seperti Volkswagen, Stellantis, dan Mercedes-Benz telah memangkas atau mengalihkan proyek-proyek baterai. ( tbu )




