Gelombang panas kelima yang melanda Eropa tahun ini mulai menekan aktivitas ekonomi. Suhu ekstrem menurunkan produktivitas pekerja, menekan konsumsi dan meningkatkan biaya operasional perusahaan. Dampaknya terlihat di Padua, Italia. Tradisi aperitivo, yakni tradisi makan camilan dan minuman ringan jam 18-19 di tempat terbuka kini bergeser. Sebab, masyarakat memilih ruangan berpendingin udara. Alhasil, area makan luar ruangan banyak ditinggalkan. Survei terhadap sekitar 600 bisnis perhotelan di Padua dan sekitarnya menunjukkan lebih dari 80% usaha mengalami penurunan omzet sekitar 20% selama gelombang panas terbaru. Penurunan tersebut dinilai cukup untuk menggerus margin usaha. Secara ekonomi, Moodys memperkirakan gelombang panas Eropa tahun lalu menyebabkan kehilangan output hingga 43 miliar euro. Namun pembayaran asuransi hanya sekitar 500 juta euro, menciptakan kesenjangan perlindungan yang besar. ( tbu )




