Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meredam kenaikan harga energi dan pangan agar tidak langsung dirasakan masyarakat dengan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, listrik, hingga gula. Namun menurut ekonom Josua Pardede hal itu berpotensi menimbulkan distorsi ekonomi. Sementara Peneliti dari CSIS, Fajar Hirawan menyebut jika pemerintah tidak melakukan hal itu, Inflasi di Mei 2022 bisa lebih dari 3,55 persen. Hasil dari pemerintah menahan harga-harga itu adalah inflasi Indonesia yang ditekan lebih rendah dibanding negara lain. Inflasi di negara maju seperti Amerika Serikat sudah meningkat mencapai 8 setengah persen, Argentina 58 persen, hingga Turki 70 persen. ( tbu )



