Pakar energi dari INDEF Andry Satrio Nugroho menyoroti kelancaran arus kas PLN gegara piutang dari pemerintah pada 2025 melonjak 67,45 triliun jadi 110,74 triliun. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat pembayaran batubara ke penambang melalui program domestic market obligation DMO menjadi lambat. Jadi ketika kas mengetat, PLN memperpanjang tempo pembayaran ke pemasoknya dengan perantaraan bank. Dia menilai sekitar sepertiga dari seluruh dukungan pemerintah yang dibukukan tahun lalu tidak diterima sebagai uang, melainkan sekadar tumpuan tagihan belaka. PLN tidak benar-benar memegang pendapatan tersebut, hal itu tecermin dari kas perseroan yang turun. Bahkan, Andry mencatat utang bank jangka pendek naik 36,51 triliun pada 2025 jadi 58,29 triliun. Kondisi ini menunjukkan PLN meminjam uang dari bank untuk membiayai piutang yang seharusnya dibayar oleh negara. ( tbu )




