Maskapai penerbangan asal Australia, Qantas Airways, menyebut biaya bahan bakar yang meroket akibat dampak perang Iran, memaksa perusahaan untuk menyesuaikan strategi operasional, termasuk memangkas kapasitas penerbangan domestiknya. Dalam pernyataan resminya Qantas Airways menyebutkan, harga bahan bakar jet telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak proyeksi terakhir pada akhir bulan Februari 2026, tepat sebelum konflik Iran pecah. Meski sekitar 90% kebutuhan bahan bakar paruh kedua telah dilindung nilai atau hedging, perusahaan tetap terpapar kenaikan margin pemurnian bahan bakar jet yang melesat tajam. ( ben )



